KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami ucapkan atas kehadirat Tuhan yang Maha Esa, karena dengan rahmat
dan karunia-Nya kami masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini.
Tidak lupa kami ucapkan kepada guru pembimbing dan teman-teman yang telah
memberikan dukungan dalam menyelesaikan makalah ini.
Penulis
menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab
itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dan semoga
dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan teman-teman.
Amin.
Penulis
Kelompok IV
DAFTAR ISI
Ø KATA
PENGANTAR.........................................................................1
Ø DAFTAR ISI.............................................................................................2
Ø BAB I PENDAHULUAN....................................................................3
·
Latar Belakang...................................................................................3
·
Tujuan.....................................................................................................3
·
Metode Penulisan................................................................3
Ø BAB II PEMBAHASAN......................................................................
4-15
~
Pengkajian nyeri jantung
(Kardiovaskuler).............................4-11
~
Pengkajian Nyeri pada pasien dengan Kardiovaskukler.....................4-15
Ø BAB III PENUTUP.............................................................................16
·
Kesimpulan........................................................................................16
Ø Daftar
Pustaka................................................................................17
BAB I
PENDAHULUAN
Ø Latar Belakang Masalah
Nyeri dada merupakan salah satu keluhan yang
paling banyak ditemukan di klinik.Sebahagian besar penderita merasa ketakutan
bila nyeri dada tersebut disebabkan oleh penyakit jantung ataupun penyakit paru
yang serius.Diagnosa yang tepat sangat tergantung dari pemeriksaan fisik yang
cermat, pemeriksaan khusus lainnya serta anamnesa dari sifat nyeri dada
mengenai lokasi, penyebaran, lama nyeri serta faktor pencetus yang dapat
menimbulkan nyeri dada.
Salah satu bentuk nyeri dada yang paling sering
ditemukan adalah angina pektoris yang merupakan gejala penyakit jantung koroner
dan dapat bersifat progresif serta menyebabkan kematian, sehingga jenis nyeri
dada ini memerlukan pemeriksaan yang lebih lanjut dan penangannan yang serius.
Agar diagnosa lebih cepat diarahkan, maka perlu juga lebih dulu mengenal macam
– macam jenis nyeri dada yang disebabkan oleh berbagai penyakit lain.
Ø Tujuan
Tujuan melakukan
pengkajian
1.
Mengkaji sejauh mana nyeri pada jantung
(kardiovaskuler)
2.
Mengenal secara dini adanya gangguan
nyata maupun potensial
3.
Mengidentifikasi penyebab gangguan
4.
Merencanakan cara mengatasi permasalahan
yang ada serta menghindari masalah yang akan terjadi
Ø Metode Penulisan
Penulis
mempergunakan metode observasi dan kepustakaan.
Cara-cara yang digunakan
pada penelitian ini adalah :
·
Studi Pustaka
Dalam metode
ini penulis membaca buku-buku yang berkaitan dengan penulisan makalah ini.
·
Browsing di Internet
BAB II
PEMBAHASAN
PENGKAJIAN NYERI JANTUNG (KARDIOVASKULER)
A.
Nyeri
dada/Kardiovaskuler

Nyeri
dada/Kardiovaskuler merupakan salah satu gejala yang paling menakutkan yang
dapat dimiliki seseorang. Nyeri ini mencakup semua jenis rasa sakit atau
ketidaknyamanan yang terjadi antara daerah perut bagian atas dan leher. Nyeri
ini sering merupakan gejala klasik serangan jantung, atau lebih ringan relatif,
angina - tetapi juga terkait dengan beberapa penyakit lain, seperti sakit pada
jantung pneumonia. Untuk kebanyakan orang, mengalami rasa sakit di daerah dada
berarti Anda mengalami serangan jantung. Pada anak-anak nyeri ini adalah
keluhan umum, sering dikaitkan dengan kondisi muskuloskeletal. Nyeri dada
dikombinasikan dengan sesak napas dan atau sensasi terbakar yang adalah
beberapa gejala umum dari sakit maag.
1.
Macam-macam
Neri pada dada
Ada
2 macam jenis nyeri dada yaitu:
a)
Nyeri dada
pleuritik
Nyeri dada pleuritik biasa
lokasinya posterior atau lateral.Sifatnya tajam dan seperti ditusuk.Bertambah
nyeri bila batuk atau bernafas dalam dan berkurang bila menahan nafas atau sisi
dada yang sakit digerakan.Nyeri berasal dari dinding dada, otot, iga, pleura
perietalis, saluran nafas besar, diafragma, mediastinum dan saraf
interkostalis. Nyeri dada pleuritik dapat disebakan oleh :
-
Difusi pelura akibat infeksi paru,
emboli paru, keganasan atau radang subdiafragmatik ; pneumotoraks dan
penumomediastinum.
b)
Nyeri dada non
pleuritik
Nyeri dada non-pleuritik
biasanya lokasinya sentral, menetap atau dapat menyebar ke tempat lain. Plaing
sering disebabkan oleh kelainan di luar paru.
1.
Kardial
a.
Iskemik miokard akan menimbulkan rasa
tertekan atau nyeri substernal yang menjalar ke aksila dan turun ke bawah ke
bagian dalam lengan terutama lebih sering ke lengan kiri. Rasa nyeri juga dapat
menjalar ke epigasterium, leher, rahang, lidah, gigi, mastoid dengan atau tanpa
nyeri dada substernal.
Nyeri disebabkan karena
saraf eferan viseral akan terangsang selama iekemik miokard, akan tetapi
korteks serebral tidak dapat menentukan apakah nyeri berasal sari miokard.
Karena rangsangan saraf melalui medula spinalis T1-T4 yang juga merupakan
jalannya rangsangan saraf sensoris dari sistem somatis yang lain. Iskemik
miokard terjadi bila kebutuhan 02 miokard tidak dapat dipenuhi oleh aliran
darah koroner. Pda penyakit jantung koroner aliran darah ke jantung akan
berkurang karena adanya penyempitan pembuluh darah koroner. jalannya rangsangan
saraf sensoris dari sistem somatis yang lain. Iskemik miokard terjadi bila
kebutuhan 02 miokard tidak dapat dipenuhi oleh aliran darah koroner. Pda
penyakit jantung koroner aliran darah ke jantung akan berkurang karena adanya
penyempitan pembuluh darah koroner.
Ada 3 sindrom iskemik yaitu :
-
Angina stabil ( Angina klasik, Angina of
Effort) :
Serangan nyeri dada khas
yang timbul waktu bekerja.Berlangsung hanya beberapa menit dan menghilang
dengan nitrogliserin atau istirahat.Nyeri dada dapat timbul setelah makan, pada
udara yang dingin, reaksi simfatis yang berlebihan atau gangguan emosi.
-
Angina tak stabil (Angina preinfark,
Insufisiensi koroner akut) :
Jenis Angina ini dicurigai
bila penderita telah sering berulang kali mengeluh rasa nyeri di dada yang
timbul waktu istirahat atau saat kerja ringan dan berlangsung lebih lama.
-
Infark miokard :
Iskemik miokard yang
berlangsung lebih dari 20-30 menit dapat menyebabkan infark miokard.Nyeri dada
berlangsung lebih lama, menjalar ke bahu kiri, lengan dan rahang. Berbeda
dengan angina pektoris, timbulnya nyeri dada tidak ada hubungannya dengan
aktivitas fisik dan bila tidak diobati berlangsung dalam beberapa jam.
Disamping itu juga penderita mengeluh dispea, palpitasi dan
berkeringat.Diagnosa ditegakan berdasarkan serioal EKG dan pemeriksa enzym
jantung.
b.
Prolaps katup mitral dapat menyebabkan
nyeri dada prekordinal atau substernal yang dapat berlangsung sebentar maupun
lama. Adanya murmur akhir sisttolik dan mid sistolik-click dengan gambaran
echokardiogram dapat membantu menegakan diagnosa.
c.
Stenosis aorta berat atau substenosis
aorta hipertrofi yang idiopatik juga dapat menimbulkan nyeri dada iskemik.
2.
Perikardikal
Saraf sensoris untuk
nyeri terdapat pada perikardium parietalis diatas diafragma.Nyeri perikardila
lokasinya di daerah sternal dan area preokordinal, tetapi dapat menyebar ke
epigastrium, leher, bahu dan punggung.Nyeri bisanya seperti ditusuk dan timbul
pada aktu menarik nafas dalam, menelan, miring atau bergerak.
Nyeri hilang bila
penderita duduk dan berdandar ke depan. Gerakan tertentu dapat menambah rasa
nyeri yang membedakannya dengan rasa nyeri angina. Radang perikardial diafragma lateral
dapat menyebabkan nyeri epigastrum dan punggung seperti pada pankreatitis atau
kolesistesis.
3.
Aortal
Penderita hipertensi,
koartasio aorta, trauma dinding dada merupakan resiko tinggi untuk pendesakan
aorta. Diagnosa dicurigai bila rasa nyeri dada depan yang hebat timbul tiba-
tiba atau nyeri interskapuler. Nyeri dada dapat menyerupai infark miokard akan
tetapi lebih tajam dan lebih sering menjalar ke daerah interskapuler serta
turun ke bawah tergantung lokasi dan luasnya pendesakan
4.
Gastrointestinal
Refluks geofagitis,
kegansan atau infeksi esofagus dapat menyebabkan nyeri esofageal.Nyeri esofageal lokasinya ditengah, dapat
menjalar ke punggung, bahu dan kadang – kadang ke bawah ke bagian dalam lengan
sehingga seangat menyerupai nyeri angina.Perforasi ulkus peptikum, pankreatitis
akut distensi gaster kadang – kadang dapat menyebabkan nyeri substernal
sehingga mengacaukan nyeri iskemik kardinal. Nyeri seperti terbakar yang sering
bersama – sama dengan disfagia dan regurgitasi bila bertambah pada posisi
berbaring dan berurang dengan antasid adalah khas untuk kelainan esofagus, foto
gastrointestinal secara serial, esofagogram, test perfusi asam, esofagoskapi
dan pemeriksaan gerakan esofageal dapat membantu menegakan diagnosa.
5.
Mulkuloskletal
Trauma lokal atau
radang dari rongga dada otot, tulang kartilago sering menyebabkan nyeri dada
setempat.Nyeri biasanya timbul setelah aktivitas fisik, berbeda halnya nyeri
angina yang terjadi waktu exercis.Seperti halnya nyeri pleuritik.Neri dada
dapat bertambah waktu bernafas dalam.Nyeri otot juga timbul pada gerakan yang
berpuitar sedangkan nyeri pleuritik biasanya tidak demikian.
6.
Fungsional
Kecemasan dapat
menyebabkan nyeri substernal atau prekordinal, rasa tidak enak di dada,
palpilasi, dispnea, using dan rasa takut mati.Gangguan emosi tanpa adanya
klealinan objektif dari organ jantung dapat membedakan nyeri fungsional dengan
nyeri iskemik miokard.
7.
Pulmonal
Obstruksi saluran nafas
atas seperti pada penderita infeksi laring kronis dapat menyebakan nyeri dada,
terutama terjadi pada waktu menelan.Pada emboli paru akut nyeri dada menyerupai
infark miokard akut dan substernal.Bila disertai dengan infark paru sering
timbul nyeri pleuritik.Pada hipertensi pulmoral primer lebih dari 50% penderita
mengeluh nyeri prekordial yang terjadi pada waktu exercise.Nyeri dada merupakan
keluhan utama pada kanker paru yang menyebar ke pleura, organ medianal atau
dinding dada.
2. Skala
Nyeri
Keterangan :
- 0 : Tidak nyeri
- 1-3 : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan baik.
- 4-6 :Nyeri sedang : Secara obyektif klien mendesis, menyeringai, dapat menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baik.
- 7-9 : Nyeriberat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya,tidak dapat diatasi dengan alihposisi nafas panjang dan distraksi
- 10 :Nyeri sangat berat : Pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi, memukul.
3.
Angina
Angina
(angina pectoris - Latin untuk dada yang digencet/ditekan) adalah
ketidaknyamanan dada yang terjadi ketika ada suplai oksigen darah yang
berkurang pada area dari otot jantung. Pada kebanyakan kasus-kasus, kekurangan
suplai darah disebabkan oleh penyempitan dari arteri-arteri koroner sebagai
akibat dari arteriosclerosis.
·
Angina biasanya dirasakan sebagai:
1)
tekanan,
2)
keberatan,
3)
pengetatan,
4)
pemerasan, atau
5)
nyeri diseluruh dada, terutama dibelakang
tulang dada.
Nyeri ini seringkali menyebar ke
leher, rahang, lengan-lengan, punggung, atau bahkan gigi-gigi.
·
Pasien-pasien mungkin juga menderita:
1.
salah cerna (indigestion),
2.
heartburn (nyeri di hulu hati),
3.
kelemahan,
4.
berkeringat,
5.
mual,
6.
kejang, dan
7.
sesak napas.
Angina biasanya
terjadi waktu latihan, stres emosi yang parah, atau setelah makan yang berat.
Selama periode-periode ini, otot jantung menuntut lebih banyak oksigen darah
daripada arteri-arteri yang menyempit dapat berikan. Angina secara khas
berlangsung dari 1 sampai 15 menit dan dibebaskan dengan istirahat atau dengan
menempatkan tablet nitroglycerin dibawah lidah. Nitroglycerin mengendurkan
pembuluh-pembuluh darah dan menurunkan tekanan darah. Keduanya istirahat dan
nitroglycerin mengurangi permintaan otot jantung untuk oksigen, jadi
membebaskan angina.
Angina digolongkan dalam satu dari
dua tipe-tipe:
1)
stable angina (angina yang stabil) atau
2)
unstable angina (angina yang tidak
stabil).
ü Stable
angina
Stable angina
adalah tipe yang paling umum dari angina, dan adalah apa yang dimaksudkan oleh
kebanyakan orang-orang ketika mereka merujuk pada angina. Orang-orang dengan
stable angina mempunyai gejala-gejala angina pada basis yang reguler dan
gejala-gejalanya sedikit banyaknya dapat diprediksi (contohnya, menaiki
tangga-tangga menyebabkan nyeri dada). Untuk kebanyakan pasien-pasien,
gejala-gejalanya terjadi selama pengerahan tenaga dan umumnya berlangsung
kurang dari lima menit. Mereka dibebaskan dengan istirahat atau obat, seperti
nitroglycerin dibawah lidah.
ü Unstable
angina
Unstable angina
adalah kurang umum dan lebih serius. Gejala-gejala lebih parah dan kurang dapat
diprediksi daripada pola-pola dari stable angina. Lebih dari itu,
nyeri-nyerinya lebih sering, berlangsung lebih lama, terjadi waktu istirahat,
dan tidak dibebaskan dengan nitroglycerin dibawah lidah (atau pasien perlu
untuk menggunakan lebih banyak nitroglycerin daripada biasanya). Unstable
angina tidaklah sama seperti serangan jantung, namun ia memerlukan kunjungan
segera pada dokter anda atau departemen darurat rumah sakit karena pengujian
jantung lebih jauh sangat diperlukan. Unstable angina seringkali adalah
pendahuluan pada serangan jantung.
4.
Penyebab
Penyebab nyeri
dada dapat bervariasi dari masalah kecil, seperti gangguan pencernaan atau
stres, untuk keadaan darurat medis yang serius, seperti serangan jantung atau
emboli paru. Penyebab nyeri dada atau faktor pencetus meliputi kegiatan seperti
berjalan,, joging berjalan dan membawa beban kerja yang berat. Penyebab
potensial lainnya termasuk masalah peredaran darah serius seperti
aterosklerosis, angina, kejang perikarditis, koroner atau miokarditis.
Berolahraga dalam cuaca dingin dapat menyebabkan nyeri dada pada beberapa orang
yang tidak memiliki masalah ketika mereka berolahraga dalam cuaca hangat. Lung
masalah yang dapat menyebabkan nyeri dada termasuk bekuan darah di paru-paru
(emboli paru), runtuhnya paru-paru (pneumotoraks). Radang selaput di sekitar
paru-paru (pleuritis) dapat menyebabkan nyeri dada yang biasanya terasa tajam,
dan sering semakin buruk ketika Anda mengambil napas dalam-dalam atau batuk.
Angina pendek disebut nyeri dada terutama disebabkan oleh kurangnya suplai
oksigen dalam tubuh dan juga karena kurangnya pembuangan limbah dari tubuh.
Penyebabnya mungkin membangun-up dari deposito lemak, atau plak (diucapkan
"plak"), di dalam arteri - pembuluh darah yang membawa oksigen dan
nutrisi dari jantung ke tubuh Anda. Kekurangan Vitamin D dapat menyebabkan
berbagai masalah dan mempengaruhi kondisi sudah ada, termasuk nyeri punggung.
5.
Gejala
Gejala yang
umumnya terjadi dengan nyeri dada termasuk nyeri dada dan rasa sakit yang
meningkat dengan pernapasan dalam atau gerakan dan juga dapat menyebar ke, bahu
rahang, punggung leher, bagian atas atau lengan. Gejala penyakit jantung
meliputi angina (karakteristik beraktivitas) dan penurunan toleransi latihan.
Anda mungkin tidak berpikir bahwa gejala benar-benar terluka, tapi mereka dapat
menyebabkan beberapa komplikasi. Tanda-tanda dan gejala serangan jantung
mungkin mulai perlahan-lahan, atau mereka mungkin terjadi tiba-tiba.
Gejala-gejala sakit maag mungkin termasuk sensasi terbakar di dada, tepat di
belakang tulang dada. Jika Anda memiliki dingin, Anda dapat memiliki salah satu
atau semua gejala-gejala: debit meningkat hidung (hidung meler), kesulitan
bernapas melalui hidung, bersin, tenggorokan gatal, dan batuk.
Nyeri
dada merupakan indikator serangan jantung atau tertunda terjadi. Bila Anda
memiliki keraguan untuk penyebabnya, Anda harus mencari perawatan medis segera.
Waktu adalah faktor yang paling penting dalam menyelamatkan hidup Anda
B.
Pengkajian Nyeri pada pasien dengan Kardiovaskukler
Dalam melakukan pengkajian dengan
baik, maka diperlukan pemahaman, latihan dan ketrampilan mengenal tanda dan
gejala yang ditampilkan oleh pasien. Proses ini dilaksanakan melalui interaksi
perawatan dari klien, observasi, dan pengukuran.
Tujuan melakukan pengkajian
5.
Mengkaji sejauh mana nyeri pada jantung
(kardiovaskuler)
6.
Mengenal secara dini adanya gangguan
nyata maupun potensial
7.
Mengidentifikasi penyebab gangguan
8.
Merencanakan cara mengatasi permasalahan
yang ada serta menghindari masalah yang akan terjadi
v Tekhnik
pengkajian
Pengkajian dapat dilakukan minimal sekali, tetapi dapat dilakukan beberapa kali secara teratur, misal setiap jam pada pasien kritis. Tekhnik pengkajian meliputi :
1. Anamnesa/wawancara
2. Pemeriksaan fisik
3. Pemeriksaan diagnostik/penunjang
Pengkajian dapat dilakukan minimal sekali, tetapi dapat dilakukan beberapa kali secara teratur, misal setiap jam pada pasien kritis. Tekhnik pengkajian meliputi :
1. Anamnesa/wawancara
2. Pemeriksaan fisik
3. Pemeriksaan diagnostik/penunjang
Ø Anamnesa/Wawancara :
a) Keluhan
utama
Tanyakan tentang gangguan terpenting yang dirasakan klien sehingga ia perlu pertolongan. Keluhan yang harus diperhatikan antara lain sesak napas, nyeri dada menjalar ke arah lengan, cepat lelah, batuk lendir atau berdarah, pingsan, berdebar-debar, dan lainnya sesuai dengan patologi penyakitnya.
Tanyakan tentang gangguan terpenting yang dirasakan klien sehingga ia perlu pertolongan. Keluhan yang harus diperhatikan antara lain sesak napas, nyeri dada menjalar ke arah lengan, cepat lelah, batuk lendir atau berdarah, pingsan, berdebar-debar, dan lainnya sesuai dengan patologi penyakitnya.
b) Riwayat
penyakit sekarang (RPS)
Tanyakan tentang perjalanan penyakit sejak keluhan hingga klien meminta pertolongan. Misal:
Tanyakan tentang perjalanan penyakit sejak keluhan hingga klien meminta pertolongan. Misal:
-
tanyakan sejak kapan keluhan dirasakan,
-
berapa kali keluhan terjadi,
-
bagaimana sifat keluhan,
-
kapan dan apa penyebab keluhan,
-
keadaan apa yang memperburuk dan memperingan
keluhan,
-
bagaimana usaha untuk mengatasi keluhan
sebelum meminta pertolongan,
-
berhasilkan tindakan tersebut
c) Riwayat
penyakit terdahulu (RPD)
Tanyakan tentang penyakit yang pernah dialami sebelumnya :
Tanyakan tentang penyakit yang pernah dialami sebelumnya :
-
tanyakan apakah klien pernah dirawat
sebelumnya
-
dengan penyakit apa,
-
pernahkah mengalami sakit yang berat
d) Riwayat
tambahan disesuaikan dengan patologi penyakitnya
-
riwayat keluarga
-
riwayat pekerjaan
-
riwayat
geografi
-
riwayat alergi
-
kebiasaan social
-
kebiasaan merokok
Ø Pemeriksaan
fisik secara umum/(Chepalokaudal)
a.
Keadaan Umum : KU baik/sedang/lemah
Kesadaran : Compos Mentis, Apatis, Stupor, Koma
Vital sign : TD: ____mmHg, RR: ___x/mnt, N: ____x/mnt, S: ___oC BB/TB :
Kesadaran : Compos Mentis, Apatis, Stupor, Koma
Vital sign : TD: ____mmHg, RR: ___x/mnt, N: ____x/mnt, S: ___oC BB/TB :
b.
Kepala :
Bentuk mesosepal ataukah ada kelainan, adakah jejas
Rambut ______________
Telinga _______________
Hidung _______________
Mata ________________
Mulut dan gigi : ________
Bentuk mesosepal ataukah ada kelainan, adakah jejas
Rambut ______________
Telinga _______________
Hidung _______________
Mata ________________
Mulut dan gigi : ________
c.
Leher :
Kaji adanya pembesaran lnn, kaji adanya JVP (misal pembesaran lnn (-), peningkatan JVP (-)
Kaji adanya pembesaran lnn, kaji adanya JVP (misal pembesaran lnn (-), peningkatan JVP (-)
d.
Thoraks :
-
Inspeksi : Lihat adanya jejas, lihat
gerak dada dan pengembangan dada, adakah kelainan, lihat adanya retraksi dada,
sesuaikan dengan alasan masuk
-
Palpasi : Kaji pengembangan dada,
rasakan adakah perbedaan antara dada kanan dan kiri
-
Perkusi : Lakukan perkusi pada semua
area paru
-
Auskultasi : Lakukan auskultasi pada
semua area paru dan jantung
Ø Pemeriksaan
fisik sistem kardiovaskuler
Secara topografik jantung berada di bagian depan rongga mediastinum
Bagian dada yang ditempati oleh proyeksi jantung yang seperti terlukis di atas itu dinamakan prekordium
Secara topografik jantung berada di bagian depan rongga mediastinum
Bagian dada yang ditempati oleh proyeksi jantung yang seperti terlukis di atas itu dinamakan prekordium
Pada pengkajian yang dilakukan pada
asuhan keperawatan,pengkajian nyeri dada selain diatas juga
secara spesifik meliputi dua hal, yaitu pengkajian primer dan juga pengkajian
sekunder.
Pada pengkajian primer ini seperti halnya pada tahap resusitasi jantung paru yang mengenai akan ABC yaitu Airway, Breathing, Circulation. Walaupun tahapan resusitasi jantung paru ini berbeda bila kita mengkaji dengan pasien nyeri dada. Penilaian ABC ini juga masuk pengkajian primer ini yaitu :
Pada pengkajian primer ini seperti halnya pada tahap resusitasi jantung paru yang mengenai akan ABC yaitu Airway, Breathing, Circulation. Walaupun tahapan resusitasi jantung paru ini berbeda bila kita mengkaji dengan pasien nyeri dada. Penilaian ABC ini juga masuk pengkajian primer ini yaitu :
- Airway. Yang kita kaji sebagai seorang perawat pada tahap airway ini diantaranya yaitu bagaimana kepatenan jalan nafas penderita, apakah ada sumbatan / penumpukan sekret di jalan nafas penderita, dan bagaimana bunyi nafasnya, apakah ada bunyi nafas tambahan pada penderita tersebut.
- Breathing. Yang kita kaji dalam hal ini yaitu bagaimana pola nafas penderita, frekuensi pernafasan serta juag kedalaman dan iramanya nafas penderita. Apakah penderita juga menggunakan otot bantu pernafasan, apakah ada bunyi nafas tambahan pula ?
- Circulation. Yang kita kaji dalam sirkulasi penderita nyeri ada ini diantaranya yaitu tanda-tanda vital yang meliputi akan tekanan darah, suhu, nadi, respirasi, heart rate. Selain itu yang dikaji adalah nadi perifer dan nadi karotis yaitu mengenai kualitas (isi dan tegangan), Terus kita kaji juga capillary refillnya, apakah ada akral dingin, sianosis atau oliguria. Dan juga kita kaji apakah ada penurunan kesadaran yang terjadi.
Selanjutnya adalah mengenai
pengkajian sekunder pada askep nyeri dada. Pada pengkajian sekunder ini yang kita
perlu kaji diantaranya yaitu :
- Lokasi Nyeri Dada. Pengkajian mengenai lokasi nyeri ini bisa membantu dalam menegakkan diagnosa apakah nyeri dada tersebut berasal dari jantung apakah dari organ lainnya. Dimana tempat mulainya, penjalarannya (ciri khas nyeri dada koroner : Nyeri dada ini dimulai dari sternal menjalar ke leher, dagu atau bahu sampai lengan kiri bagian ulna).
- Sifat Nyeri Dada. Khas nyeri dada yang berasal dari jantung doiantaranya yaitu : perasaan penuh, rasa berat seperti kejang, meremas, menusuk, mencekik / rasa terbakar. Sensasi nyeri dada ini akan dirasakan berbeda pada tiap pasien nyeri dada koroner.
- Ciri Rasa Nyeri Dada. Yang dikaji pada bagian ini adalah derajat nyeri, lamanya nyeri, berapa kali timbul dalam jangka waktu tertentu. Ini akan membantu dalam mendiagnosa alnya pada penyakit jantung koroner.
- Kronologis Nyeri Dada. Yang kita kaji adalah awal timbul nyeri serta perkembangannya secara berurutan. Timbulnya saat aktifitas atau kah sedang beristirahat atau sedang tertidur.
- Keadaan pada waktu serangan. Apakah timbul pada saat-saat / kondisi tertentu. Hampir sama seperti yang disebutkan di atas tentang kondisi pada waktu serangan nyeri dada terjadi.
- Faktor yang memperkuat / meringankan rasa nyeri misalnya sikap / posisi tubuh, pergerakan, tekanan. Apakah nyeri dada.
BAB II
PENUTUP
KESIMPULAN
Nyeri dada merupakan gejala yang dapat ditimbulkan
oleh berbagai macam penyakit.Salah satu jenis nyeri dada adalah angina pektoris
yang merupakan gejala dari penyakit jantung dan memerlukan pemeriksaan klinis
lebih lanjut di rumah sakit. Didapatkan bermacam-macam jenis angina antara lain
angina stabil, angina tak stabil dan angina prinzmetal. Sebagian besar
penderita angina ini kelainannya disebabkan oleh faktor koroner yang
obstruktif.Pada penyakit jantung tertentu atau penyakit lainnya juga dapat
menyebabkan angina non koroner yaitu angina yang timbul bukan akibat kelainan
koroner.Pemeriksaan angina umumnya meliputi pemeriksaan EKG, test exercise,
radionuklid scanning, ehokardiografi dan arteriografi koroner. Penanganan
angina umumnya adalah dengan obat-obatan yaitu nitrat, beta-bloker dan
ca-antagonis: dengan bedah koroner (CABG) dan angioplasti (PTCA).
Petunjuk praktis untuk pemeriksaan dan penanganan
angina dapat ditingkatkan sebagai berikut: penderita dengan angina stabil
segera diberikan terapi dengan obat-obatan. Bila efektif dilakukan pemeriksaan
lanjutan dengan test exercise dan ehokardiografi. Bila test positif pada beban
rendah, angiografi harus dilakukan. Pada kasus berat seperti kelainan cabang
utama kiri dan kelainan 3 pembuluh darah dilakukan CABG.Pada kasus sedang yaitu
kelainan 1 atau pembuluh darah dilakukan CBAG atau PTCA. Penderita yang tidak
berhasil dengan obat-obatan dilakukan angiografi tanpa test exercise lebih dulu
seperti halnya pada angina tak stabil.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Hadzinski,
Mary F. Et al. 2000. Handbook of
Emergency Cardiovaskular Care. For Health Care Provider”. American Heart
Association, Inc
2.
Pusat
kesehatan jantung dan pembuluh darah harapan kita. 2001. Buku ajar keperawatan
kardiovaskular. Edisi ke-1. Jakarta:
bidang diklat bkjpd harapan kita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar