pencarian

Rabu, September 03, 2014

KDM II konsep dasar Latihan Nafas Dalam Dan Batuk Efektif serta Standar Operasional Prosedur (SOP)



Konsep Dasar
“ Latihan Nafas Dalam dan Batuk Efketif “


1.      Pengertian Latihan Nafas Dalam dan Batuk Efektif

Batuk efektif adalah suatu metode batuk dengan benar, dimana klien dapat menghemat energi sehingga tidak mudah lelah mengeluarkan dahak secara maksimal. Batuk merupakan gerakan refleks yang bersifat reaktif terhadap masuknya benda asing dalam saluran pernapasan. Gerakan ini terjadi atau dilakukan tubuh sebagai mekanisme alamiah terutama untuk melindungi paru paru.
Gerakan ini pula yang kemudian dimanfaatkan kalangan medis sebagai terapi untuk menghilangkan lendir yang menyumbat saluran pernapasan akibat sejumlah penyakit. Itulah yang dimaksud pengertian batuk efektif.
Batuk efektif merupakan batuk yang dilakukan dengan sengaja. Namun dibandingkan dengan batuk biasa yang bersifat refleks tubuh terhadap masuknya benda asing dalam saluran pernapasan, batuk efektif dilakukan melalui gerakan yang terencana atau dilatihkan terlebih dahulu. Dengan batuk efektif, maka berbagai penghalang yang menghambat atau menutup saluran pernapasan dapat dihilangkan .
Latihan nafas dalam adalah suatu cara yang dilakukan melatih pernafasan untuk menggunakan otot-otot pernafasan dengan baik.

2.      Anatomi Fisiologi Sistem Pernafasan
                     

a.       Hidung = Naso = Nasal
            Hidung merupakan saluran udara yang pertama, mempunyai dua lubang ( cavum nasi), dipisahkan oleh sekat hidung (septum nasi). Didalam terdapat bulu-bulu yang berguna untuk menyaring udara, debu dan kotoran-kotoran yang masuk kedalam lubang hidung.
·         Bagian luar dinding terdiri dari kulit
·         Lapisan tengah terdiri dari otot-otot dan tulang rawan.
·         Lapisan dalam terdiri dari selaput lendir yang berlipat-lipat yang dinamakan karang hidung (konka nasalis), yang berjumlah 3 buah:
a)      konka nasalis inferior ( karang hidup bagian bawah)
b)       konka nasalis media(karang hidung bagian tengah)
c)      konka nasalis superior(karang hidung bagian atas).
Diantara konka-konka ini terdapat 3 buah lekukan meatus yaitu meatus superior (lekukan bagian atas), meatus medialis (lekukan bagian tengah dan meatus inferior (lekukan bagian bawah). Meatus-meatus inilah yang dilewati oleh udara pernafasan, sebelah dalam terdapat lubang yang berhubungan dengan tekak, lubang ini disebut koana.
Dasar dari rongga hidung dibentuk oleh tulang rahang atas, keatas rongga hidung berhubungan dengan beberapa rongga yang disebut sinus paranasalis, yaitu sinus maksilaris pada rongga rahang atas, sinus frontalis pada rongga tulang dahi, sinus sfenoidalis pada rongga tulang baji dan sinus etmodialis pada rongga tulang tapis.
Pada sinus etmodialis, keluar ujung-ujung saraf penciuman yang menuju ke konka nasalis. Pada konka nasalis terdapat sel-sel penciuman, sel tersebut terutama terdapat di bagianb atas. Pada hidung di bagian mukosa terdapat serabut-serabut syaraf atau respektor dari saraf penciuman disebut nervus olfaktorius.
Disebelah belakang konka bagian kiri kanan dan sebelah atas dari langit-langit terdapat satu lubang pembuluh yang menghubungkan rongga tekak dengan rongga pendengaran tengah, saluran ini disebut tuba auditiva eustaki, yang menghubungkan telinga tengah dengan faring dan laring. Hidung juga berhubungan dengan saluran air mata disebut tuba lakminaris.
Fungsi hidung, terdiri dari
v  bekerja sebagai saluran udara pernafasan
v  sebagai penyaring udara pernafasan yang dilakukan oleh bulu-bulu hidung
v  dapat menghangatkan udara pernafasan oleh mukosa
v   membunuh kuman-kuman yang masuk, bersama-sama udara pernafasan oleh leukosit yang terdapat dalam selaput lendir (mukosa) atau hidung.
b.       Tekak = Faring
      Merupakan tempat persimpangan antara jalan pernapasan dan jalan makanan. Terdapat dibawah dasar tengkorak, dibelakang rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas tulang leher. Hubungan faring dengan organ-organ lain keatas berhubungan dengan rongga hidung, dengan perantaraan lubang yang bernama koana. Ke depan berhubungan dengan rongga mulut, tempat hubungan ini bernama istmus fausium. Ke bawah terdapat dua lubang, ke depan lubang laring, ke belakang lubang esofagus.
      Dibawah selaput lendir terdapat jaringan ikat, juga dibeberapa tempat terdapat folikel getah bening. Perkumpulan getah bening ini dinamakan adenoid. Disebelahnya terdapat 2 buah tonsilkiri dan kanan dari tekak. Di sebelah belakang terdapat epiglotis( empang tenggorok) yang berfungsi menutup laring pada waktu menelan makanan.

Rongga tekak dibagi dalam 3 bagian:
ü  bagian sebelah atas yang sama tingginya dengan koana yang disebut nasofaring.
ü  Bagian tengah yang sama tingginya dengan istmus fausium disebut orofaring
ü  Bagian bawah sekali dinamakan laringgofaring.

c.       Pangkal Tenggorokan (Laring)
      Merupakan saluran udara dan bertindak sebagai pembentukan suara terletak di depan bagian faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk ke dalam trakea dibawahnya. Pangkal tenggorokan itu dapat ditutup oleh sebuah empang tenggorok yang disebut epiglotis, yang terdiri dari tulang-tulang rawan yang berfungsi pada waktu kita menelan makanan menutupi laring.
Laring terdiri dari 5 tulang rawan antara lain:
1.      Kartilago tiroid (1 buah) depan jakun sangat jelas terlihat pada pria.
2.       Kartilago ariteanoid (2 buah) yang berbentuk beker
3.      Kartilago krikoid (1 buah) yang berbentuk cincin
4.      Kartilago epiglotis (1 buah).
      Laring dilapisi oleh selaput lendir, kecuali pita suara dan bagian epiglotis yang dilapisi oleh sel epiteliumnberlapis. Proses pembentukan suara merupakan hasil kerjasama antara rongga mulut, rongga hidung, laring, lidah dan bibir. Perbedaan suara seseorang tergsantung pada tebal dan panjangnya pita suara. Pita suara pria jauh lebih tebal daripada pita suara wanita.

d.      Batang Tenggorokan ( Trakea)
      Merupakan lanjutan dari laring yang terbentuk oleh 16-20 cincin yang terdiri dari tulang-tulang rawan yang berbentuk seperti kuku kuda. Sebelah dalam diliputi oleh selaput lendir yang berbulu getar yang disebut sel bersilia,hanya bergerak kearah luar.
Panjang trakea 9-11 cm dan dibelakang terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi oleh otot polos. Sel-sel bersilia gunanya untuk mengeluarkan benda-benda asing yang masuk bersama-sama dengan udara pernafasan. Yang memisahkan trakea menjadi bronkus kiri dan kanan disebut karina.

e.       Cabang Tenggorokan ( Bronkus)
      Bronkus terbagi menjadi bronkus kanan dan kiri, bronkus lobaris kanan ( 3 lobus) dan bronkus lobaris kiri ( 2 bronkus).bronkus lobaris kanan terbagi menjadi 10 bronkus segmental dan bronkus lobaris kiri terbagi menjadi 9 bronkus segmental. Bronkus segmentalisini kemudian terbagi lagi menjadi bronkus subsegmental yang dikelilingi oleh jaringan ikat yang memiliki: arteri, limfatik dan saraf.
·         Bronkiolus
            Bronkus segmental bercabang-cabang menjadi bronkiolus. Bronkiolus mengandung kelenjar submukosa yang memproduksi lendir yang membentuk selimut tidak terputus untuk melapisi bagian dalam jalan nafas.

·         Bronkiolus terminalis
            Bronkiolus membentuk percabangan menjadi bronkiolus terminalis( yang mempunyai kelenjar lendir dan silia)
·         Bronkiolus respiratori
            Bronkiolus terminalis kemudian menjadi bronkiolus respirstori. Bronkiolus respiratori dianggap sebagai saluran transisional antara lain jalan nafas konduksi dan jalan udara pertukaran gas.
·         Duktus alveolar dan sakus alveolar
            Bronkiolus respiratori kemudian mengarah ke dalam duktus alveolar dan sakus alveolar. Dan kemudian menjadi alvioli.

f.    Alveoli
     Merupakan tempat pertukaran oksigen dan karbondioksida. Terdapat sekitar 300 juta yang jika bersatu membentuk satu lembar akan seluas 70 m2. 
Terdiri atas 3 tipe:
·         Sel-sel alveolar tipe I : sel epitel yang membentuk dinding alveoli
·         Sel-sel alveolar tipe II: sel yang aktif secara metabolik dan nensekresikan surfaktan ( suatu fosfolifid yang melapisi permukaan dalam dan mencegah alveolar agar tidak kolaps)ahanan
·         Sel-sel alveolar tipe III: makrofag yang merupakan sel-sel fagotosis dan bekerja sebagai mekanisme pertahanan.

g.       Paru – paru
           Merupakan organ yang elastis berbentuk kerucut. Terletak dalam rongga dada atau toraks. Kedua paru dipisahkan oleh mediastinum sentral yang berisi jantung dan beberapa pembuluh dareah besar. Setiap paru mempunyai apeks dan basis, paru kanan lebih besar dan terbagi menjadi 3 lobus dan fisura interlobaris. Paru kiri lebih kecil dan terbagi menjadi 2 lobus. Lobus-lobus tersebut terbagi menjadi beberapa segmen sesuai dengan segmen bronkusnya.

3.      Tujuan
a.       Tujuan Latihan Nafas Dalam
·         Meningkatkan kapasitas paru
·         Menegah atelektasis
b.        Tujuan Batuk Efektif
·         Membebaskan jalan nafas dari akumulasi secret
·          Mengeluarkan sputum untuk pemeriksaan diagnostik laboraturium
·         Mengurangi sesak nafas karena akumulasi secret




4.      Indikasi

a.       Latihan Nafas Dalam dilakukan pada :
·         Pasien dengan gangguan paru obstruktif maupun restriktif
·         Pasien pada tahap penyembuhan dari pembedahan thorax
·         Untuk metode relaxasi

b.      Batuk Efektif dilakukan pada :
·          Pasien dengan gangguan saluran nafas akibat akumulasi secret
·         Pasien yang akan di lakukan pemeriksaan diagnostik sputum
·          Pasien setelah menggunakan bronkodilator

5.      Dasar Pemikiran

            Latihan nafas dalam adalah suatu cara untuk melatih pernafasan untuk menggunakan otot-otot pernafasan dengan baik, sedangkan latihan batuk efektif adalah suatu metode atau cara untuk mengeluarkan sputum yang ada di dalam saluran pernafasan.


6.      Persiapan Alat
1.      Sarung tangan
    
   
2.      Bengkok



3.      Antiseptik (jika perlu)


4.       Sputum pot

5.      Tisu habis pakai
  
7.      Mekanisme Kerja


No

Prosedur Kerja

Rasional
1.
Fase Prainteraksi
A.    Mengecek status pasien
B.     Mencuci tangan
C.     Menyiapkan alat



A.  Untuk mengetahui status penyakit pasien
B.  Mencegah infeksi nasokomial
C.  Persiapan melakukan tindakan
2.
Fase Orientasi
A.    Memberikan salam dan sapa nama pasien
B.     Menjelaskan tujuan  dan prosedur pelaksanaan
C.     Menanyakan persetujuan/kesiapan pasien



A.    Menjalin keakraban antara perawat dengan pasien
B.     Agar pasien memahami tujuan tindakan yang di lakukan
C.     Adanya kerja sama antara perawat dengan pasien



3.






















Fase Kerja
A.    Menjaga privacy pasien
B.     Mempersiapkan pasien
C.     Meminta pasien meletakkan satu tangan di dada dan satu tangan di abdomen
D.    Melatih pasien melakukan nafas perut (menarik nafas dalam melalui hidung hingga 3 hitungan, jaga mulut tetap tertutup)
E.     Meminta pasien merasakan mengembangnya abdomen (cegah lengkung pada punggung)
F.      Meminta pasien menahan nafas hingga 3 hitungan
G.    Meminta menghembuskan nafas perlahan dalam 3 hitungan (lewat mulut, bibir seperti meniup)

H.    Memasang perlak/alas dan bengkok (di pangkuan pasien bila duduk atau di dekat mulut bila tidur miring)
I.       Meminta pasien untuk melakukan nafas dalam 2 kali , yang ke-3: inspirasi, tahan nafas dan batukkan dengan kuat
J.       Menampung lendir dalam sputum pot
K.    Merapikan pasien


A.    Agar pasien merasa privacinya di hargai
B.     Untuk memulai suatu tindakan
C.     Pasien merasakan gerakan inhalasi dan ekshalasi abodomen
D.    Untuk melatih kontraksi otot abdomen
E.     Untuk melancarkan proses ekspirasi

F.      Relaksasi otot abdomen

G.    Agar mengatur nafas saat ekshalasi

H.    Mempermudah pasien untuk mengeluarkan sputum

I.       Untuk mengeluarkan secret pada area jalan nafas
J.       Untuk menghindari bakteri terkontaminasi dengan pasien dan perawat lain .
K.    Mengakhiri sebuah tindakan





4.
Fase Terminasi
A.    Melakukan evaluasi tindakan
B.     Berpamitan dengan klien
C.     Mencuci tangan
D.    Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan

A.    Pasien dapat memahami tindakan yang dilakukan
B.     Agar pasien merasa dihargai
C.     Mencegah infeksi nasokomial
D.    Pendokumentasian

8.      Format Evaluasi


No

Prosedur Kerja
Nilai
0
1
2
1.
Fase Prainteraksi
A.    Mengecek status pasien
B.     Mencuci tangan
C.     Menyiapkan alat





2.
Fase Orientasi
A.    Memberikan salam dan sapa nama pasien
B.     Menjelaskan tujuan  dan prosedur pelaksanaan
C.     Menanyakan persetujuan/kesiapan pasien
                    



3.










Fase Kerja
A.    Menjaga privacy pasien
B.     Mempersiapkan pasien
C.     Meminta pasien meletakkan satu tangan di dada dan satu tangan di abdomen
D.    Melatih pasien melakukan nafas perut (menarik nafas dalam melalui hidung hingga 3 hitungan, jaga mulut tetap tertutup)
E.     Meminta pasien merasakan mengembangnya abdomen (cegah lengkung pada punggung)
F.      Meminta pasien menahan nafas hingga 3 hitungan
G.    Meminta menghembuskan nafas perlahan dalam 3 hitungan (lewat mulut, bibir seperti meniup)
H.    Memasang perlak/alas dan bengkok (di pangkuan pasien bila duduk atau di dekat mulut bila tidur miring)
I.       Meminta pasien untuk melakukan nafas dalam 2 kali , yang ke-3: inspirasi, tahan nafas dan batukkan dengan kuat
J.       Menampung lendir dalam sputum pot
K.    Merapikan pasien








4.
Fase Terminasi
A.    Melakukan evaluasi tindakan
B.     Berpamitan dengan klien
C.     Mencuci tangan
D.    Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan


                                                                                                Manado ,
                        Jumlah Aspek
Nilai Akhir =                            X 100
                        Jumlah Nilai                                                                Evaluator

Tidak ada komentar:

Posting Komentar