Konsep Dasar
“ Latihan Nafas Dalam dan Batuk Efketif “
1.
Pengertian Latihan Nafas Dalam dan Batuk
Efektif
Batuk
efektif adalah suatu metode batuk dengan benar, dimana klien dapat menghemat
energi sehingga tidak mudah lelah mengeluarkan dahak secara maksimal. Batuk
merupakan gerakan refleks yang bersifat reaktif terhadap masuknya benda asing
dalam saluran pernapasan. Gerakan ini terjadi atau dilakukan tubuh sebagai
mekanisme alamiah terutama untuk melindungi paru paru.
Gerakan
ini pula yang kemudian dimanfaatkan kalangan medis sebagai terapi untuk
menghilangkan lendir yang menyumbat saluran pernapasan akibat sejumlah
penyakit. Itulah yang dimaksud pengertian batuk efektif.
Batuk
efektif merupakan batuk yang dilakukan dengan sengaja. Namun dibandingkan dengan
batuk biasa yang bersifat refleks tubuh terhadap masuknya benda asing dalam
saluran pernapasan, batuk efektif dilakukan melalui gerakan yang terencana atau
dilatihkan terlebih dahulu. Dengan batuk efektif, maka berbagai penghalang yang
menghambat atau menutup saluran pernapasan dapat dihilangkan .
Latihan nafas dalam adalah suatu cara yang dilakukan
melatih pernafasan untuk menggunakan otot-otot pernafasan dengan baik.
2. Anatomi
Fisiologi Sistem Pernafasan
a. Hidung =
Naso = Nasal
Hidung merupakan saluran udara yang
pertama, mempunyai dua lubang ( cavum nasi), dipisahkan oleh sekat hidung (septum
nasi). Didalam terdapat bulu-bulu yang berguna untuk menyaring udara, debu dan
kotoran-kotoran yang masuk kedalam lubang hidung.
·
Bagian luar dinding terdiri dari kulit
·
Lapisan tengah terdiri dari otot-otot dan
tulang rawan.
·
Lapisan dalam terdiri dari selaput lendir
yang berlipat-lipat yang dinamakan karang hidung (konka nasalis), yang
berjumlah 3 buah:
a) konka
nasalis inferior ( karang hidup bagian bawah)
b) konka nasalis media(karang hidung bagian
tengah)
c) konka
nasalis superior(karang hidung bagian atas).
Diantara konka-konka ini terdapat 3 buah lekukan meatus yaitu
meatus superior (lekukan bagian atas), meatus medialis (lekukan bagian tengah
dan meatus inferior (lekukan bagian bawah). Meatus-meatus inilah yang dilewati
oleh udara pernafasan, sebelah dalam terdapat lubang yang berhubungan dengan tekak,
lubang ini disebut koana.
Dasar dari rongga hidung dibentuk oleh tulang rahang atas, keatas
rongga hidung berhubungan dengan beberapa rongga yang disebut sinus
paranasalis, yaitu sinus maksilaris pada rongga rahang atas, sinus frontalis
pada rongga tulang dahi, sinus sfenoidalis pada rongga tulang baji dan sinus
etmodialis pada rongga tulang tapis.
Pada sinus etmodialis, keluar ujung-ujung saraf penciuman yang
menuju ke konka nasalis. Pada konka nasalis terdapat sel-sel penciuman, sel
tersebut terutama terdapat di bagianb atas. Pada hidung di bagian mukosa
terdapat serabut-serabut syaraf atau respektor dari saraf penciuman disebut
nervus olfaktorius.
Disebelah belakang konka bagian kiri kanan dan sebelah atas dari
langit-langit terdapat satu lubang pembuluh yang menghubungkan rongga tekak
dengan rongga pendengaran tengah, saluran ini disebut tuba auditiva eustaki,
yang menghubungkan telinga tengah dengan faring dan laring. Hidung juga
berhubungan dengan saluran air mata disebut tuba lakminaris.
Fungsi hidung, terdiri dari
v bekerja
sebagai saluran udara pernafasan
v sebagai
penyaring udara pernafasan yang dilakukan oleh bulu-bulu hidung
v dapat
menghangatkan udara pernafasan oleh mukosa
v membunuh kuman-kuman yang masuk, bersama-sama
udara pernafasan oleh leukosit yang terdapat dalam selaput lendir (mukosa) atau
hidung.
b. Tekak = Faring
Merupakan
tempat persimpangan antara jalan pernapasan dan jalan makanan. Terdapat dibawah
dasar tengkorak, dibelakang rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas tulang
leher. Hubungan faring dengan organ-organ lain keatas berhubungan dengan rongga
hidung, dengan perantaraan lubang yang bernama koana. Ke depan berhubungan
dengan rongga mulut, tempat hubungan ini bernama istmus fausium. Ke bawah
terdapat dua lubang, ke depan lubang laring, ke belakang lubang esofagus.
Dibawah
selaput lendir terdapat jaringan ikat, juga dibeberapa tempat terdapat folikel
getah bening. Perkumpulan getah bening ini dinamakan adenoid. Disebelahnya
terdapat 2 buah tonsilkiri dan kanan dari tekak. Di sebelah belakang terdapat
epiglotis( empang tenggorok) yang berfungsi menutup laring pada waktu menelan
makanan.
Rongga
tekak dibagi dalam 3 bagian:
ü bagian
sebelah atas yang sama tingginya dengan koana yang disebut nasofaring.
ü Bagian
tengah yang sama tingginya dengan istmus fausium disebut orofaring
ü Bagian
bawah sekali dinamakan laringgofaring.
c. Pangkal
Tenggorokan (Laring)
Merupakan saluran udara dan bertindak sebagai pembentukan suara
terletak di depan bagian faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk
ke dalam trakea dibawahnya. Pangkal tenggorokan itu dapat ditutup oleh sebuah
empang tenggorok yang disebut epiglotis, yang terdiri dari tulang-tulang rawan
yang berfungsi pada waktu kita menelan makanan menutupi laring.
Laring terdiri dari 5 tulang rawan antara lain:
1.
Kartilago tiroid (1 buah) depan jakun
sangat jelas terlihat pada pria.
2.
Kartilago ariteanoid (2 buah) yang berbentuk
beker
3.
Kartilago krikoid (1 buah) yang berbentuk
cincin
4.
Kartilago epiglotis (1 buah).
Laring
dilapisi oleh selaput lendir, kecuali pita suara dan bagian epiglotis yang
dilapisi oleh sel epiteliumnberlapis. Proses pembentukan suara merupakan hasil
kerjasama antara rongga mulut, rongga hidung, laring, lidah dan bibir.
Perbedaan suara seseorang tergsantung pada tebal dan panjangnya pita suara.
Pita suara pria jauh lebih tebal daripada pita suara wanita.
d. Batang
Tenggorokan ( Trakea)
Merupakan lanjutan dari laring yang terbentuk oleh 16-20 cincin
yang terdiri dari tulang-tulang rawan yang berbentuk seperti kuku kuda. Sebelah
dalam diliputi oleh selaput lendir yang berbulu getar yang disebut sel
bersilia,hanya bergerak kearah luar.
Panjang trakea 9-11 cm dan dibelakang terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi oleh otot polos. Sel-sel bersilia gunanya untuk mengeluarkan benda-benda asing yang masuk bersama-sama dengan udara pernafasan. Yang memisahkan trakea menjadi bronkus kiri dan kanan disebut karina.
Panjang trakea 9-11 cm dan dibelakang terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi oleh otot polos. Sel-sel bersilia gunanya untuk mengeluarkan benda-benda asing yang masuk bersama-sama dengan udara pernafasan. Yang memisahkan trakea menjadi bronkus kiri dan kanan disebut karina.
e. Cabang
Tenggorokan ( Bronkus)
Bronkus terbagi menjadi bronkus kanan dan kiri, bronkus lobaris
kanan ( 3 lobus) dan bronkus lobaris kiri ( 2 bronkus).bronkus lobaris kanan
terbagi menjadi 10 bronkus segmental dan bronkus lobaris kiri terbagi menjadi 9
bronkus segmental. Bronkus segmentalisini kemudian terbagi lagi menjadi bronkus
subsegmental yang dikelilingi oleh jaringan ikat yang memiliki: arteri,
limfatik dan saraf.
·
Bronkiolus
Bronkus segmental bercabang-cabang menjadi bronkiolus. Bronkiolus mengandung kelenjar submukosa yang memproduksi lendir yang membentuk selimut tidak terputus untuk melapisi bagian dalam jalan nafas.
Bronkus segmental bercabang-cabang menjadi bronkiolus. Bronkiolus mengandung kelenjar submukosa yang memproduksi lendir yang membentuk selimut tidak terputus untuk melapisi bagian dalam jalan nafas.
·
Bronkiolus terminalis
Bronkiolus
membentuk percabangan menjadi bronkiolus terminalis( yang mempunyai kelenjar
lendir dan silia)
·
Bronkiolus respiratori
Bronkiolus
terminalis kemudian menjadi bronkiolus respirstori. Bronkiolus respiratori
dianggap sebagai saluran transisional antara lain jalan nafas konduksi dan jalan
udara pertukaran gas.
·
Duktus alveolar dan sakus alveolar
Bronkiolus
respiratori kemudian mengarah ke dalam duktus alveolar dan sakus alveolar. Dan
kemudian menjadi alvioli.
f. Alveoli
Merupakan tempat pertukaran oksigen dan karbondioksida. Terdapat sekitar 300 juta yang jika bersatu membentuk satu lembar akan seluas 70 m2.
Merupakan tempat pertukaran oksigen dan karbondioksida. Terdapat sekitar 300 juta yang jika bersatu membentuk satu lembar akan seluas 70 m2.
Terdiri atas 3 tipe:
·
Sel-sel alveolar tipe I : sel epitel yang
membentuk dinding alveoli
·
Sel-sel alveolar tipe II: sel yang aktif
secara metabolik dan nensekresikan surfaktan ( suatu fosfolifid yang melapisi
permukaan dalam dan mencegah alveolar agar tidak kolaps)ahanan
·
Sel-sel alveolar tipe III: makrofag yang
merupakan sel-sel fagotosis dan bekerja sebagai mekanisme pertahanan.
g.
Paru
– paru
Merupakan organ yang elastis berbentuk kerucut. Terletak
dalam rongga dada atau toraks. Kedua paru dipisahkan oleh mediastinum sentral
yang berisi jantung dan beberapa pembuluh dareah besar. Setiap paru mempunyai
apeks dan basis, paru kanan lebih besar dan terbagi menjadi 3 lobus dan fisura
interlobaris. Paru kiri lebih kecil dan terbagi menjadi 2 lobus. Lobus-lobus
tersebut terbagi menjadi beberapa segmen sesuai dengan segmen bronkusnya.
3.
Tujuan
a.
Tujuan Latihan Nafas Dalam
·
Meningkatkan kapasitas paru
·
Menegah atelektasis
b.
Tujuan Batuk Efektif
·
Membebaskan jalan nafas dari akumulasi secret
·
Mengeluarkan sputum untuk pemeriksaan diagnostik laboraturium
·
Mengurangi sesak nafas karena akumulasi secret
4. Indikasi
a.
Latihan Nafas Dalam dilakukan pada :
·
Pasien dengan gangguan paru obstruktif maupun restriktif
·
Pasien pada tahap penyembuhan dari pembedahan thorax
·
Untuk metode relaxasi
b.
Batuk Efektif dilakukan pada :
·
Pasien dengan gangguan saluran nafas akibat akumulasi
secret
·
Pasien yang akan di lakukan pemeriksaan diagnostik sputum
·
Pasien setelah menggunakan bronkodilator
5. Dasar Pemikiran
Latihan
nafas dalam adalah suatu cara untuk melatih pernafasan untuk menggunakan
otot-otot pernafasan dengan baik, sedangkan latihan batuk efektif adalah suatu
metode atau cara untuk mengeluarkan sputum yang ada di dalam saluran
pernafasan.
6. Persiapan Alat
1.
Sarung tangan
2.
Bengkok
3.
Antiseptik (jika perlu)
4.
Sputum
pot
5.
Tisu habis pakai
7.
Mekanisme Kerja
|
No
|
Prosedur Kerja
|
Rasional
|
|
1.
|
Fase Prainteraksi
A.
Mengecek
status pasien
B.
Mencuci
tangan
C.
Menyiapkan
alat
|
A. Untuk mengetahui status
penyakit pasien
B. Mencegah infeksi
nasokomial
C. Persiapan melakukan
tindakan
|
|
2.
|
Fase Orientasi
A.
Memberikan
salam dan sapa nama pasien
B.
Menjelaskan
tujuan dan prosedur pelaksanaan
C.
Menanyakan
persetujuan/kesiapan pasien
|
A. Menjalin keakraban
antara perawat dengan pasien
B. Agar pasien
memahami tujuan tindakan yang di lakukan
C. Adanya kerja sama
antara perawat dengan pasien
|
|
|
|
|
|
3.
|
Fase Kerja
A.
Menjaga
privacy pasien
B.
Mempersiapkan
pasien
C.
Meminta
pasien meletakkan satu tangan di dada dan satu tangan di abdomen
D.
Melatih
pasien melakukan nafas perut (menarik nafas dalam melalui hidung hingga 3
hitungan, jaga mulut tetap tertutup)
E.
Meminta
pasien merasakan mengembangnya abdomen (cegah lengkung pada punggung)
F.
Meminta
pasien menahan nafas hingga 3 hitungan
G.
Meminta
menghembuskan nafas perlahan dalam 3 hitungan (lewat mulut, bibir seperti
meniup)
H.
Memasang
perlak/alas dan bengkok (di pangkuan pasien bila duduk atau di dekat mulut
bila tidur miring)
I.
Meminta
pasien untuk melakukan nafas dalam 2 kali , yang ke-3: inspirasi, tahan nafas
dan batukkan dengan kuat
J.
Menampung
lendir dalam sputum pot
K.
Merapikan
pasien
|
A. Agar pasien merasa
privacinya di hargai
B. Untuk memulai suatu
tindakan
C. Pasien merasakan
gerakan inhalasi dan ekshalasi abodomen
D. Untuk melatih kontraksi
otot abdomen
E. Untuk melancarkan
proses ekspirasi
F. Relaksasi otot
abdomen
G. Agar mengatur nafas
saat ekshalasi
H. Mempermudah pasien
untuk mengeluarkan sputum
I. Untuk mengeluarkan
secret pada area jalan nafas
J. Untuk menghindari
bakteri terkontaminasi dengan pasien dan perawat lain .
K. Mengakhiri sebuah
tindakan
|
|
|
|
|
|
4.
|
Fase Terminasi
A. Melakukan evaluasi tindakan
B. Berpamitan dengan klien
C. Mencuci tangan
D. Mencatat kegiatan dalam lembar
catatan keperawatan
|
A. Pasien dapat
memahami tindakan yang dilakukan
B. Agar pasien merasa
dihargai
C. Mencegah infeksi
nasokomial
D. Pendokumentasian
|
8. Format
Evaluasi
|
No
|
Prosedur Kerja
|
Nilai
|
|||
|
0
|
1
|
2
|
|||
|
1.
|
Fase Prainteraksi
A.
Mengecek
status pasien
B.
Mencuci
tangan
C.
Menyiapkan
alat
|
|
|
|
|
|
2.
|
Fase Orientasi
A.
Memberikan
salam dan sapa nama pasien
B.
Menjelaskan
tujuan dan prosedur pelaksanaan
C.
Menanyakan
persetujuan/kesiapan pasien
|
||||
|
|
|
||||
|
3.
|
Fase Kerja
A.
Menjaga
privacy pasien
B.
Mempersiapkan
pasien
C.
Meminta
pasien meletakkan satu tangan di dada dan satu tangan di abdomen
D.
Melatih pasien
melakukan nafas perut (menarik nafas dalam melalui hidung hingga 3 hitungan,
jaga mulut tetap tertutup)
E.
Meminta
pasien merasakan mengembangnya abdomen (cegah lengkung pada punggung)
F.
Meminta
pasien menahan nafas hingga 3 hitungan
G.
Meminta
menghembuskan nafas perlahan dalam 3 hitungan (lewat mulut, bibir seperti
meniup)
H.
Memasang
perlak/alas dan bengkok (di pangkuan pasien bila duduk atau di dekat mulut
bila tidur miring)
I.
Meminta
pasien untuk melakukan nafas dalam 2 kali , yang ke-3: inspirasi, tahan nafas
dan batukkan dengan kuat
J.
Menampung
lendir dalam sputum pot
K.
Merapikan
pasien
|
||||
|
|
|
|
|
|
|
|
4.
|
Fase Terminasi
A. Melakukan evaluasi tindakan
B. Berpamitan dengan klien
C. Mencuci tangan
D. Mencatat kegiatan dalam lembar
catatan keperawatan
|
||||
Manado
,
Jumlah Aspek
Nilai Akhir = X 100
Jumlah Nilai Evaluator
Tidak ada komentar:
Posting Komentar